Konser “Gerbang Kerajaan Serigala” diselenggarakan sebagai pembuktian komitmen Karinding Attack untuk mengembangkan musik karinding dan menyebarkannya ke khayalak luas. Terlihat beberapa remaja dan anak muda kini tak risih lagi untuk mempelajari karinding, seperti yang terlihat dari konser malam itu yang banyak dihadiri oleh remaja dan anak muda. Beberapa malah membawa karinding sendiri.
Sebagai sebuah band yang tumbuh besar di lingkungan musik metal dan punk, terselip mayoritas lirik-lirik dan pesan dari Karinding Attack banyak memiliki pesan menyoal kritik sosial dan politik, terutama dilihat dari perspektif lokalitas.
Konser yang juga merupakan hajatan ulang tahun ketiga Karinding Attack ini dibuka dengan “Bubuka” yang dilantunkan oleh penyanyi Trie Utami bersama budayawan Budi Dalton. Kemudian dilanjutkan dengan “Mantram Gayatri” dan “Hampura Ma bagian 1”. Karinding Attack pun malam itu tak melupakan menyisipkan pesan-pesan kritik sosial dan politiknya seperti pada lagu “Dadangos Bagong”, dan “Wasit Kehed”.
Pada lagu “Burial Buncelik”, Karinding Attack memperlihatkan warna musik yang berbeda ketika berkolaborasi bersama musisi jazz Sony Akbar Trio. Musik-musik dari bambu itu bersanding mengalun dengan alunan piano dan gitar yang disambut riuh penonton.
“ Musik Karinding Attack itu bukan musik tradisional juga bukan musik modern. Kami membuat musik dan bereksplorasi dengan apa yang kami inginkan,” ujar sang vokalis Man yang malam itu tampil begitu komunikatif dan seringkali melemparkan bobodoran (candaan) atau sentilan.
Kekayaan eksplorasi itu pula yang ditampilkan oleh band yang terdiri dari Man (vokal), Ki Amenk (karinding), Wisnu (karinding), Kimung (celempung), Hendra (celempung), Papay (celempung, kohkol), Okid (gong tiup, toleat), Jimbot (toleat, suling, serunai), dan Yuki (suling, saluang, dan serunai). Pada lagu “Because- Kelas Rakyat” mereka berkolaborasi dengan band folk Paper Back. Meski berbeda genre musik, toh, Karinding Attack maupun Paper Back tak sama sekali canggung. Malah harmonisasi nada terlihat dari musisi yang berbeda warna musik ini.
Salah satu komitmen Karinding Attack dalam melestarikan seni karinding pada anak muda adalah ketika mereka mengajak remaja yang menggeluti Kelas Karinding (Kekar) dalam konser malam itu untuk melantunkan lagu “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Tak lupa pula, Karinding Attack malam itu menghadirkan para seniman-seniman yang berjasa dalam melestarikan seni karinding seperti Abah Olot, Mang Engkus, dan Mang Utun. Kolaborasi anatara seniman karinding muda dan para tetua karinding ini pun terjadi ketika melantunkan lagu “Ririwa”.
Konser sepanjang hampir dua jam itu pun ditutup oleh tiga lagu yaitu “Yaro”, “Gerbang”, dan “Maaf Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Tak lama kemudian encore berkumandang, tak lama setelah itu lantunan sinden pun lantang bersuara ketika lagu “Kembang Tanjung” dinyanyikan.
Momen spesial malam itu justru pada akhir acara. Karinding mengundang vokalis Risa Saraswati untuk bersama-sama menyanyikan “We Are The World” karya Michael Jackson. Momen emosionil itu pun dilanjutkan dengan kolaborasi dengan musisi jazz Sony Akbar Trio, band folk Paperback, dan band hiphop Eye Feel Sick. Konser ini pun membuktikan komitmen dan hasrat dari Karinding Attack bahwa tidak ada satu pun kerangka maupun genre musik yang sanggup mengekang mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
welcome to my blog